Di pagi yang cerah seperti biasanya aku memulai aktivitasku dengan penuh semangat, aku bangun kemudian langsung bergegas ke kamar mandi, setelah selesai mandi aku langsung sholat lalu bergegas ke kamarku untuk berdandan dan mengenakan seragam sekolahku. Setelah itu aku pun bergegas ke ruang makan untuk sarapan karena seperti biasanya, aku tidak di perbolehkan berangkat ke sekolah oleh ibu jika tidak sarapan terlebih dahulu, selesai sarapan aku pun langsung berpamitan pada ibu dan ayah.
“Ibu, Ayah, Yuis berangkat dulu ya …… ,”Oh iya, ada yang lupa, ibu mana uang sakunya untuk Yuis,” kataku pada ibuku sambil tersenyum. “Hemmm …. Kalau yang satu itu Yuis memang tidak pernah lupa ya, ini uang sakunya, inget jangan jajan banyak – banyak ya, biasakan sisanya di tabung.”sahut ibu. “Iya, ibuku tersayang.” sambil nyengir. Kemudian mengambil sepeda dan hendak berangkat ke sekolah. “Ibu, Ayah, Yuis berangkat ya, Assalamualaikum …….. “kataku. “Waalaikumsalam.”sahut ibu dan ayah.
Sesampainya di sekolah aku segera meletakkan sepedaku pada tempat parkiran biasanya dan segera beranjak ke kelas, sesampainya di kelas, seperti biasanya, aku menyapa teman – temanku. Tak terasa tiba – tiba bel berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai, sebelum pelajaran di mulai kami pun membaca doa bersama – sama terlebih dahulu, itulah tradisi yang selalu kami lakukan setiap mengawali pelajaran dan juga pada saat mengakhiri pelajaran, kami pun selesai berdoa.
Kemudian guru kami pun memulai pelajarannya seperti biasanya. “baiklah anak – anak kali ini kita akan mempelajari tentang pembelahan sel.”kata guru kami. Tak terasa pelajaran pun telah berlangsung selama 2 jam lamanya, waktunya berganti mata pelajaran lainnya. Begitu seterusnya. Bel pun berbunyi lagi tanda waktu istirahat, aku dan sahabat – sahabatku, segera beranjak keluar dari kelas dan mengajak mereka membeli beberapa makanan ringan di kantin sekolah kami.
“Nisa, Mifta, Upik, Putri ayok ke kantin, aku pengen jajan.”kataku.
“Emmm ….. baiklah, let’s go.” Kata teman – temanku serentak. Setelah kami merasa cukup puas kami pun kembali ke kelas namun tak terlintas sedikitpun di benakku sebelumnya, kalau hari itu adalah tugasku dan sahabat - sahabatku untuk membersihkan perpustakaan.
“Huuuh …. Malas aku kalau udah waktunya bersihin perpus gini.”kataku. “Loh, memangnya kenapa Yuis bukannya asyik bersihin bareng sama temen – temen juga.”sahut Nisa.
“Iya sih tapi masalahnya bukan itu, selain debu tapi juga sesuatu yang menjijikkan juga selalu ada disana, itu tu kotoran tikus, kalian nggak jijik ya, hehehehe” jawabku menegaskan. “Oh, iya ya terus gimana ya, masalahnya hari ini memang tugasnya kita membersihkan, kalau nggak mau, kita kan di marahi plend.”upikpun menyahut.
“Emmmm …… ya udahlah mau gimana lagi coba, apalah daya kita harus melakukannya, kalau di kerjakannya bareng – bareng pasti kan terasa jauh lebih ringan meskipun pada kenyataanya sulit sih, hehehe ……. “sahut Mifta sambil tersenyum.
“Ya udah kalau begitu, cemungut, fighting plend, okay,”kataku.
“We agree with you Yuis, my sweet and cute plend, hahahahaha …….” sahut teman – temanku.
Sesampainya di perpus kami pun segera bergegas membersihkan, mulai dari menyapu, membersihkan jendela, hingga membuang sampah yang ada dalam perpus yang memang pada dasarnya kurang begitu terawat sehingga harus ada kesadaran diri sendiri dari masing – masing murid.
Di sela – sela kami tengah membersihkan perpus ada teriakan dari luar perpus, “Yuis, aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku mau sama kamu.” kata Deafry salah seorang cowok yang tengah menyukaiku.
Awalnya aku tidak merasa terganggu karena mungkin hanya sebuah lelucon dari beberapa teman – temanku tapi ternyata semua itu tak seperti yang ku bayangkan. Suara itu semakin keras dan semakin menjadi – jadi akupun akhirnya merasa tak nyaman dengan semua itu, karena banyak yang menyaksikan kejadian ini, sehingga aku merasa sedikit malu, juga mengganggu ketenangan kelas lainnya, yang pada akhirnya aku pun memutuskan keluar dari perpustakaan dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi dan apa maksud dari semua ini.
Saat aku keluar ternyata memang ada salah seorang teman laki – lakiku yang tengah berdiri disana, kemudian akupun bertanya,
“Apa yang kamu lakukan disini, Deafry, mengapa kamu membuat keributan seperti ini, bagaimana jika ada guru yang tau, apa kamu tak memikirkan hal itu sebelumnya”kataku.
“Maafin aku Yuis, tapi aku hanya ingin mengungkapkan apa yang tengah ada dalam hatiku kini padamu, apa aku salah ?????”
“Hemmmm …….. kamu tak salah namun caranya bukan seperti ini, kamu ngertikan maksudnya aku, maaf bukan maksudku menyinggung perasaanmu.”
“Iya, nggak papa aku mengerti, oh ya, terus apa jawabnya dari pengakuanku padamu tadi, kamu mau kan ????”
“Hemmm ……… apa maksud kamu ???? maaf tapi aku nggak bisa denganmu, aku harap kamu tak membenciku.
“Baiklah aku mengerti, tapi aku tak akan menyerah cukup sampai disini.” Sambil bergegas pergi menjauh dariku, mungkin karena dia cukup kecewa dengan jawabanku. Setelah itu aku melanjutkan menyelesaikan tugasku yang belum selesai tadi yaitu membersihkan perpus sekolahku tercinta hingga semua terselesaikan dan aku pun bergegas pulang.
Selang beberapa bulan, masalahku tadi mulai meredam, namun masalah timbul kembali dengan kehadiran sosok yang berbeda yang datang ke dalam hidupku yang juga tak pernah ku duga sebelumnya.
Suatu pagi yang sangat aneh bagiku dan sahabat – sahabatku. Dan semuanya berlangsung ketika pembelajaran berlangsung, aku yang tengah konsen dengan pelajaran hari ini menjadi sedikit terganggu dengan perkataan sahabatku.
“Yuis Yuis …, dengar aku.”kata Nisa
“Apa Nis, habis ini di marain guru kalau kita ngomong sendiri.”
“Huuuh ……… nggak nggak, eh kamu nggak nyadar ya kalau dari tadi ada yang merhatiin kamu, apalagi nggak cuma hari ini, dia ngeliatin kamu muluk lo ?????”kata Nisa.
“Aaaaaahhhhhhhh ……….. kamu ini Nis, ada – ada aja, mang siapa sih yang merhatiin aku, pasti kamu ya, kenapa aku sweet and cute yaah, hahahaha …… “kataku sambil bergurau.”
“Eh kamu ini di bilangin nggak percayaan, tu lo Helmy yang liatin kamu, coba deh kamu gantian liat dia, pasti nanti dia salting deh.”kata Nisa
“Emmmm …….. ya dah, ni karena aku di suruh sama kamu ya.”jawabku
Sambil melihat Helmy yang tengah di duduk di bangku depan, tak ku sangka dia melihat ke arahku lagi dan akhirnya aku bertatapan dengannya, dengan tersipu malu dia tersenyum padaku, aku pun membalasnya dengan senyuman kecil yang terpaksa aku lakukan.
“Tu kan bener anaknya jadi salting gitu ma kamu, ciyeeee ….., kayaknya Helmy suka deh ma kamu Yuis.”kata Nisa
“Aaaah ….. nggak usah bercanda dah, mana mungkin, kamu aja yang keburu mengartikan sikapnya yang aneh itu, udah ah nggak usah di bahas lagi yaah, okay my plend, please ……… “kataku
“Emmm ….. okay okay.”kata Nisa.
Tak lama kemudian hanya selang beberapa hari tepat pada hari valentine yang katanya sih hari kasih sayang tapi aku tak pernah memperdulikan akan hal itu, berbeda dengan teman – temanku yang antusias sekali.
Pagi itu aku berangkat agak kesiangan untungnya sih aku nggak telat, sesampainya di kelas aku merasa ada yang aneh dan sahabat – sahabatku juga bersikap aneh, mereka tersenyum tanpa sebab padaku, seperti biasanya aku hendak memasukkan tasku pada laciku, pikirku kenapa tasku nggak bisa masuk ke laci, akhirnya aku menengok ke dalam laciku, ternyata ada bingkisan berwarna biru, warna yang memang menjadi favouriteku, namun aku masih tak tau isinya, aku menjadi sangat penasaran, akhirnya aku membuka bingkisan itu di depan sahabat – sahabatku, ternyata isinya sebuah boneka berwarna biru dan juga sepucuk surat yang juga berwarma biru.
Di sisi lain aku masih merasa bingung, aku masih terus bertanya – tanya dan akhirnya aku pun membaca surat tersebut yang ternyata itu semua dari Helmy, dan sahabat – sahabatku udah tau sebelumnya, kalau itu pemberian dari Helmy. Aku membacanya perlahan hingga di ujung suratnya yang membuatku kaget yang luar biasa ternyata apa yang di pikirkan oleh sahabat – sahabatku selama ini benar kalau Helmy benar – benar menyukaiku, dalam benakku masalah yang lalu aja belum sepenuhnya selesai, tapi udah datang masalah berikutnya, aku harus jawab apalagi pikirku. Saat aku selesai membaca surat itu bel tanda masuk berbunyi.
Semuanya tetap berjalan seperti biasanya, tiba waktunya istirahat, aku pun beruding dan meminta pendapat pada sahabat – sahabatku apa yang harus ku lakukan.
“Aku harus gimana masalah dengan Deafry aja belum sepenuhnya selesai, kalian tau sendiri kan, sekarang di tambah lagi Helmy, aku bingung.”kataku.
“Udah Yuis terima Helmy aja ya ya ya, dia kan baik, ganteng, imut lagi, kurang apalagi coba dia juga sayang banget lo ma kamu.”kata Mifta salah seorang sahabatku.
“Ya Yuis, kapan lagi coba kamu dapet cowok baik dan perhatian kayak dia lagi, ntar kamu nyesel lo.”sahut Nisa yang juga sahabatku.
“Kalian semua ini bukan nyari solusi tapi malah nyuruh aku ma Helmy, aku tu sama sekali nggak suka ma keduanya, aku nggak mau pacaran dulu, aku masih terlalu dini untuk mengenal ini semua, apalagi mereka berdua berteman gimana kalau pertemanan diantara mereka berdua akhirnya hancur cuma gara – gara aku, aku nggak mau itu terjadi.”kataku sambil mulai meneteteskan air mata karena aku merasa terpojokkan oleh saran sahabat – sahabatku.
“Tapi aku terlanjur bilang sama helmy kalau kamu bakalan nerima dia Yuis, maafin aku.”kata Nisa
“Apa !!! kamu bilang kayak gitu, kamu nggak tanya dulu ma aku, kamu nggak mikirin perasaanya aku ya, ya udahlah semuanya udah terlanjur dan aku harus bilang sejujurnya meskipun pahit dan mungkin nantinya aku akan di benci olehnya, itu konsekuensi yang harus ku terima.”
“Baiklah, maafkan kami ya Yuis, semuanya terserahnya kamu sekarang, kami akan mendukung seluruh keputusanmu.”kata sahabat – sahabatku mencoba menenangkanku.
Akhirnya tak lama kemudian Helmy pun menemuiku dan mengungkapkan seluruh isi hatinya yang selama ini di pendam dan sengaja di sembunyikan dariku, setelah dia menjelskan panjang lebar kepadaku, tiba saatnya dia menanyakan kepastian itu padaku.
“Gimana Yuis mau kan ????”kata Helmy
“Helmy, kamu memang cowok yang baik tapi maaf aku nggak bisa, aku ingin konsen dengan sekolah dulu dan aku juga nggak di bolehin buat pacaran sama ortuku, aku takut, maafin aku, aku harap kamu mengerti akan posisiku saat ini.”jawabu.
“Tapi aku tak main – main dengan perasaanku ma kamu Yuis, Please ….. u must believe with me Yuis, I really love u so much,”kata Helmy mencoba meyakinkanku,.
“I really believe to u, but I can’t with u, maaf tapi Yuis beneran nggak bisa ma Helmy, maafin Yuis, kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari Yuis, sekali lagi maafin Yuis ya Helmy.”
“Baiklah kalau memang Yuis nggak bisa sama Helmy untuk saat ini tapi hati Helmy kan selalu untuk Yuis.”sambil beranjak pergi meninggalakanku dengan raut muka yang teramat kecewa kepadaku.
Mulai saat itu Helmy pun mulai menghindar dariku dan memutuskan untuk menjauh dariku, karena dia benar – benar merasa terluka karnaku, di sela – sela waktuku aku mengirim surat padanya sebagai tanda maaf dariku, namun di awal memang dia tak memperdulikan permohonan maaf dariku.
Namun lama kelamaan seiring berjalannya waktu, dia mulai bisa sedikit membuka hatinya lagi untuk tetap berteman baik denganku meskipun semuanya tak bisa seindah dulu lagi, saat aku benar – benar akrab dengannya seperti seorang kakak beradik, sebelum pada akhirnya aku tau akan yang rasa yang berbeda yang telah tumbuh di hatinya tanpa ku duga dan semua itu bukan sebuah mimpi ataupun sebuah lelucon seperti apa yang aku pikirkan sebelumnya.
Semua itu terjadi bukan karena keinginanku ataupun keinginannya. Semua terjadi begitu saja dan benar – benar membuatku dilema dan serba salah. Akhirnya aku harus memutuskan apa yang memang terbaik untuk semuanya dan jawaban dari semuanya adalah dengan hanya berteman baik dengan mereka dan tak lebih dari itu , dan aku tak memilih salah satupun dari mereka berdua, itulah mungkin yang akan membuat semuanya akan lebih baik menurutku, meskipun tentunya cukup menyakitkan bagi ,mereka berdua.
Tiba saatnya aku harus berpisah dengan sahabat – sahabatku dan juga laki - laki yang menyayangiku, akupun meninggalkan seluruh kenangan bersama mereka di sekolahku tercinta itu, di saat – saat terakhir kami, kami menghabiskan waktu bersama pada waktu liburan guna menghilangkan seluruh penat yang ada.
Finally, all change be better, although i know that difficult to accept by them, i can’t forget it, and all will saved in my memory as funny story in my live. Thanks a lot for your love to me and forgive me for all my mistake to you.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar